Langsung ke konten utama

REBUTAN MAINAN

  Indah bukan masa-masa kita diwaktu kecil ? masa masa dimana kita sangat Bahagia… tidak seperti sekarang yang mungkin terbebani cicilan dan lainnya. Sewaktu kecil kita mempunyai sebuah mainan yang sangat kita cintai, apabila mainan tersebut hilang,rusak, kita sangat sedih sekali bukan ? atau Ketika kita saling berebut mainan dengan Kakak dan Adik kita yang mungkin membuat kita jengkel.

TEMPAT BELAJAR MENJADI DEWASA



Bismillahirrahmanirrahim
Sebelumnya ane sebagai penulis bersyukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat, karunia dan rahmatnya kepada ane. Nikmat yang sudah Allah berikan kepada ane sangatlah banyak, Alhamdulillahilladzi bini’ matihi tatimus shalihat. Ane bisa kuliah sambil bekerja, ane bisa kenal sunnah, bisa ngaji belajar Agama diwaktu yang sama. Tidak lah itu semua bisa dilakukan kecuali pertolongan Allah semata.

Tempat belajar untuk menjadi dewasa, tempat apakah itu ? tempat yang sederhana, bernama Kost. Yups, benar. Semenjak ane nge kost, banyak pengalaman dan sebuah revolusi dalam diri ane pribadi menuju gerbang yang dinamakan dengan dewasa, tanggung jawab. Dalam rules keluarga ane, ada sebuah aturan dimana ane dan sodara2 ane yg lain apabila lulus dari SMA wajib kuliah yang jauh dari rumah (masih lingkup Jawa) dan wajib kost. kalo kata ortu ane sih supaya belajar mandiri, mandiri=mancing sendiri.
Menginjak awal-awal di dunia perkos kosan nasional, ane sama kaya cowo pada umumnya, kurang memperhatikan yang Namanya kebersihan dan kerapian. Bersikap bodo amat, kira kira ane bertahan sampai kurang lebih sampai semester 5 dimana umur ane mau menginjak 22 th. Ane juga bukan anak kost karbitan yang tiap sabtu-minggu bisa pulang kerumah ngecas duit, dimana posisi rumah dan tempat kuliah sangat jauh, kudu naik bis dulu 8 jam. bisa dibilang ane juru kunci di kostan.
Di akhir semester 5, ane berfikir sebelum tidur, “ane punya target menikah diumur 24th /25th , dengan kondisi ane yg masih malas untuk bisa bersih-bersih kostan, dan kurang peduli terhadap kerapian, bijimane bisa ngurus anak orang, kalau ngurus diri sendiri aja masih belum becus ?” gumam ane kepada diri sendiri. Baiklah “it’s time to change my habbit” perlahan ane ubah kebiasaan ane, bersyukur dengan adanya virus corona, diakhir pekan ane bisa bersih bersih kostan. Baik kamar tidur dan kamar mandinya.
Disisi lain kebersihan dan kerapian itu menurut ane menggambarkan psikologi atau kepribadian seseorang, orang yang acuh tak acuh dengan kebersihan dan kerapian tentu berbeda dengan yang rapi, bersih. Dan normalnya manusia menyukai kebersihan dan keindahan, coba aja buat survey “Survey Kepuasaan Masyarakat : Perbandingan Destinasi Wisata Keindahan Air Pegunungan dengan Air Empang” tentu kita akan menyukai pemandangan air di pegunungan dibandingkan air empang.
Dalam hal Agama pun demikian, Allah itu Maha Indah dan menyukai Keindahan. 2 faktor dari Agama dan Psikologi mendorong ane untuk berubah sedikit dikit membenahi kebersihan dan kerapian diri ane. Thread ini bukan menunjukan kalau ane udah madep mantep dalam hal urusan kebersihan dan kerapian, cuman ane buat thread ini buat kenang-kenangan di kost-kostan, sebuah pengalaman yg mungkin tidak akan terlupakan.


Kamar kost ane yg sederhana. Wkwkwk. Dilengkapi computer buat garap tugas, menulis blog, dan bermain. Lumayan buat melepas penat setelah seharian menghadapi dunia persilatan.
Kamar mandi yang buat betah, wkwkwk. Dikamar mandi ini dengan lokasinya yg sempit, dengan mudah gw buat berkaca sambil bergumam “widih, gila makin Atletis aja ni badan (Baca: Kurus -pent)”