Langsung ke konten utama

REBUTAN MAINAN

Indah bukan masa-masa kita diwaktu kecil ? masa masa dimana kita sangat Bahagia… tidak seperti sekarang yang mungkin terbebani cicilan dan lainnya. Sewaktu kecil kita mempunyai sebuah mainan yang sangat kita cintai, apabila mainan tersebut hilang,rusak, kita sangat sedih sekali bukan ? atau Ketika kita saling berebut mainan dengan Kakak dan Adik kita yang mungkin membuat kita jengkel.

MEMETIK ANUGRAH (1)


Bismillahirrahmanirrahim,
Sebuah perjalanan Indah menggapai Hidayah diatas Jalan Salafiyyah
Malam itu awal 2017, Selepas Isya kupersiapkan Baju Silat kebanggaanku, Sabuk, dan Peci. Berangkatlah aku kekonter teman sembari menunggu teman yang nyamper utk berangkat Bersama ketempat latihan. Saat itu ada keinginanku untuk belajar agama, sehingga aku memilih latihan pencak silat yang sekaligus belajar budi luhur agama.
Tak terasa rasanya malam itu ujian kenaikan tingkat yang membuat aku latihan sampai jam 3 pagi, aku punya waktu 2 jam utk tidur sebelum subuh dan berangkat ke kantor, Lelah rasanya. Minggu depannya, ketika latihan ku melihat jam dinding menunjukan jam 1 pagi, pelatih mengumpulkan kami semua, saat itu mungkin karna sudah naik tingkat pelatih berniat memberikan jurus spesial semacam kekuatan “tenaga dalam” pelatih ingin “mengisi” kami satu-satu. Jiwaku memberontak, seakan mengatakan “aku latihan silat bukan untuk ini, ini mesti gk beres” saat itu juga aku izin kepada pelatih untuk segera pulang. Namun malah diejek “wah anak mami lu ya, jam segini udah pulang” gw jawab dalam hati “bodo amat dah, yang penting keselamatan diri gua yg utama”. Di perjalanan, malam itu aku berfikir bagaimana bila aku keluar dari organisasi ini ? aliran islam mana yang harus aku ikuti ? keinginanku untuk belajar tidaklah berhenti disitu. Mengapa aku sangat serius dalam mencari Ilmu Agama ? simak terus tulisanku ya !

·         SEAKAN-AKAN MENAMPARKU !
Pertengahan 2017 pamanku jatuh sakit yang membuatku setiap pulang kantor harus ke Rumah sakit di Purwokerto, pulang dari rumah sakit aku pulang ke purbalingga hujan-hujan pakai mantel menggunakan motor zaman kompeni. Terasa lama Purwokerto-Purbalingga menggunakan motor itu, ditambah mantel yang terasa berat dan lengket di tubuh, sejak saat itu membuat aku benci pakai mantel. Adzan Maghrib pun berkumandang, saat itu aku dirumah sakit bergegas lah diriku menuju masjid komplek rumah sakit, saat itu tidak ada yang membuat aku tertarik, ketika hendak sholat tiba tiba orang disampingku langsung menempelkan kakinya yang masih basah bekas wudhu ke kakiku dan bahunya, akhirnya kami saling tatap tanpa ada niat utk menegur ataupun marah, perawakannya laki laki seumuranku menggunakan gamis dan peci putih. Aku berfikir ini orang kayanya maa syaa allah agamanya, selama sholat aku terus memperhatikan dia sholat, kebiasaanku saat shalat, bangun rakaat 2,3, aku selalu mengangkat tangan, tidak dengan dia laki laki samping kiri yang aku perhatikan, dia hanya mengangkat tangannya ketika diawal rakaat dan bangun ke rakaat ke 3. Saat itu aku berbicara dalam hati “mungkin aku yang salah, aku bodoh banget kayanya ya, dalam urusan sholat aja gak tahu tata caranya” dan mulai saat itu, aku sering memperhatikan tata cara orang sholat orang orang yang berjenggot dari awal takbir, rukuk, I’tidal, turun sujud, sampai tasyahud. aku perhatikan secara seksama, aku bertanya lagi “kok beda ya dengan yang aku kerjakan selama ini? Bagaimana bila sholatku selama ini salah ? apakah diterima ? segudang pertanyaan menyelimuti otakku. Ketika aku memutuskan keluar dari pencak silat, kegiatanku hari jumat aku berenang yups, renang, aku suka berenang. Pulang kantor langsung gas renang, selesai berenang menjelang maghrib aku mampir utk sholat di masjid agung purbalingga. Ketika itu aku melihat banyak yang memakai jubah, gamis, baju islami, aku batin “aliran apalagi ini ?”, aku sholat dengan celana silatku dan jaket adidas kebanggaanku. Selesai sholat tanpa pikir Panjang aku beranjak berdiri ditengah banyaknya orang-orang, aku yang sifatnya bodo amat tanpa ada rasa malu berdiri dan melewati Pundak Pundak mereka, ditengah tengah orang tersebut ternyata aku menemukan sosok yang menurutku wajahnya tidak asing. Dia menatapku dengan tajam, akupun menatapnya, aku mbatin “ni orang ngga asing, tapi siapa ya ? oh ya aku ingat, dia laki-laki yang di MASJID PURWOKERTO!” Aku berfikir Laki laki itu menatapku seakan akan sedang bertanya kepada diriku “gimana mas, Masih bodoh dalam Agama? Mau sampai kapan bodoh dalam hal agama? yakin nggak mau belajar ? sebelum telat ” semenjak saat itu, selesai berenang hari jum’at, saat maghrib aku sengaja sholat di masjid agung purbalingga, tujuannya supaya bertemu laki laki di masjid purwokerto itu lagi, aku ingin belajar agama bersamanya dan bertanya tanya. Namun taqdir Allah berkehendak lain, aku tidak pernah menemukannya lagi hingga saat ini. Patah semangat ? tidak… saat itu aku masih terus mencari jalan kebenaran !
( berlanjut)


Purbalingga, 25 Juli 2020