Langsung ke konten utama

REBUTAN MAINAN

Indah bukan masa-masa kita diwaktu kecil ? masa masa dimana kita sangat Bahagia… tidak seperti sekarang yang mungkin terbebani cicilan dan lainnya. Sewaktu kecil kita mempunyai sebuah mainan yang sangat kita cintai, apabila mainan tersebut hilang,rusak, kita sangat sedih sekali bukan ? atau Ketika kita saling berebut mainan dengan Kakak dan Adik kita yang mungkin membuat kita jengkel.

MENDULANG BERBAGAI FAIDAH DARI HADITS NABI TENTANG NIAT



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 
Alhamdulillah wa shalatu wa salamu ‘ala rasulillah, shallallahu’alaih wa ‘ala alihi wa ashabihi wa wassalam. Amma ba’du.
Kali ini penulis ingin men share kutipan kajian yang maa syaa Allah sangat bermanfaat buat kaum muslimin insyaa Allah. Yaitu mendulang berbagai faidah dari hadits nabi yang Mulia, Shallallahu’alaihiwassalam tentang niat. Adapun kutipan ini merupakan faidah dari Kajian Kitab Arba’in An-Nawawiyah Bersama Al Ustadz Abu isa . Salah satu kitab Ulama Syafi’iyah yaitu Al imam An-Nawawi Rahimahullah yang Masyhur di Indoesia bahkan Dunia.

Adapun teks hadits nya berikuti ini :
Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala mengatakan, dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya seseorang hanya mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Ahmad Rahimahullah mengatakatan, Islam Berporos pada 3 hadits, maksudnya ialah Islam secara keseluruhan bisa di simpulkan dengan 3 hadits saja. Yaitu :
1.     Ialah Hadits Umar Radhiyallahuanhu tentang “Niat”
2.     Hadits Aisyah tentang Larang Bid’ah
3.     Hadits Nu’man tentang Halal Haram
Alasannya ialah :
Amal seseorang hamba tertumpu pada Halal haram (Hadits Nu’man), Kemudian untuk melaksanakan Perintah dan Larangan dibutuhkan Niat (hadits umar) setelah itu didalam melaksanakan harus sesuai dengan tuntutan Syariat (Hadits ‘Aisyah) tentang Larangan bid’ah.
Faidah 1.
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ
Artinya : “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya”
maksudnya ialah Sah dan tidaknya suatu amal tergantung pada Niatnya

Faidah 2.
وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى
Artinya : “Dan sesungguhnya seseorang hanya mendapatkan apa yang dia niatkan”
Yaitu besar kecilnya pahala tergantung pada Niat Amal.
Amal mencakup 3 hal :
1.     Amalan Hati
2.     Amalan ucapan
3.     Amalan Perbuatan
Bisa jadi 2 orang yang melakukan amal shalih yang sama, namu bisa jadi perolehan pahala yang berbeda.
Fungsi dari Niat :
·        Untuk membedakan amalan ibadah dan kebiasaan.

Syarat Sahnya suatu Ibadah : Ikhlas, dan Ittiba (mengikuti Nabi Shallallahu’alaihiwassalam)
Dari sini juga dapat di bedakan antara seorang muslim yang berilmu dan tidak. Yaitu :
-         Orang berilmu dapat Kebiasaannya bisa bernilai Ibadah (karna dia meniatkan ibadah pada kebiasaannya)
-         Adapun orang Fajir dan tidak berilmu Ibadah hanya sekedar kebiasaan/adat saja.
·        Niat untuk membedakan Ibadah yang satu dengan Ibadah yang lainnya.
Contoh : Shalat 2 rakaat rawatib & Shalat Shubuh

·        Niat dapat digabungkan dan ada yang tidak dapat digabungkan
Contoh : Niat Shalat Sunnah tidak dapat digabungkan dengan Niat Shalat Wajib.

·        Niat tidak Ikhlas maka Amal tidak Diterima/Bernilai
Rinciannya :
-         Niat dari awal sudah Diselewengkan kepada Selain Allah maka Amal tidak diterima / ditolak.
-         Apabila terjadi di pertengahan Amal maka juga Amalnya tertolak
-         Apabila seorang merasa senang dengan pujian Ketika selesai Beramal, maka Pahalanya tetap.
-         Berbeda Ketika seseorang menceritakan Amalnya, maka Amalnya batal, baik sedang beramal dan sesudah beramal

·        Beramal Ibadah dengan Mengharapkan Dunia.
Rinciannya :
-         Apabila amal tersebut dalam syariat mendapatkan keuntungan duniawi maka hal tersebut tidak mengapa/diperbolehkan.
Contoh : -seseorang menyambung silaturahim dengan niat mendapatkan pahala dan keuntungan duniawinya berupa umur Panjang. Maka tidak mengapa.
-         Kalau dalam syariat ditujukan bukan untuk keuntungan duniawi maka tidak boleh ditujukan untuk duniawi.
Contoh : Menuntut Ilmu Agama
Tetap yang paling Afdhal yaitu beramal tanpa ada niat untuk keuntungan Duniawi, Allahu’alam.

Faidah 3.
فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ
Artinya : “Maka barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya,maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya”
Rasul memberikan kaidah/contoh , Amal berpahala apabila karna Allah.

Faidah 4.
مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
Artinya : “Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.”
Apabila Amalnya karna Dunia yang dicari, dan Wanita merupakan hal-hal dunia, dan ini kalimat tidak ulang oleh nabi menunjukan rendahnya hal tersebut maka tidak perlu diulang Kembali. Berbeda dengan kalimat Maka barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya,maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya” Nabi mengulang Kembali kalimatnya karna memiliki Keagungan dan Keutamaan. Berbeda dengan kalimat “Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” kalimat tidak ulang oleh nabi menunjukan rendahnya hal tersebut maka tidak perlu diulang Kembali.

·        Hijrah kepada Rasulnya ialah Hijrah kepada Sunnah Nabi/Ittiba’
·        Apabila seseorang meninggalkan maksiat, maka dia hijrah kepada Allah (secara Maknawi)
·        Hijrah Fisik yaitu hijrah dari negeri Syirik/Kafir kepada Negeri Islam/Tauhid
Batasan Wajib Hijrah Fisik : Yaitu apabila ia tidak mampu melaksanakan Syiar atau Dzahir Islam
·        Meninggalkan Negeri/Kampung yang banyak terdapat Bid’ah
·        Meninggalkan Negeri/Kampung yang banyak terjadi kemaksiatan menuju Negeri/Kampung yang sedikit dengan kemaksiatannya.

Demikian yang dapat penulis Share.
 Semoga Allah membalas kebaikan kepada para Asatidz yang sudah memberikan faidah-faidah luarbiasa.
Apabila ada kekurangan dari tulisan penulis, semata-mata itu kesalahan penulis.
Allah azza Wa jalla terbebas dari kesalahan tersebut,
Semoga bermanfaat buat kami dan sebagai tambahan Amal, dan Pembaca sebagai tambahan Ilmu dan Amal.
Wabillahi taufiq

@Kos-Kosan di Desa , 9 Ramadhan 1441 H / 1 Mei 2020
Penulis : Muhamad Nauval Wicaksono